April 27, 2011

DAWDLING IS NOT GOOD, NAZ


Owh..why this is happening? Hah-hah-hah. d fingers chose lappy keypad rather than that dusty spider-web-like logbook beside me. poor logbook.
‘Hey Naz, u r suppose to write a report right now. There's so much progress to be jotted down. Hey ur last report was Jan 2011 u know dat? And d report ain't even reach 30 sheets since ur registration okay! Do the important first babe!’ (monolog)
(Lip smiling) I have to find some strength, stimulator, and strong inducer to start writing, hah-hah-hah! (mind diddling) Its okay though, I'll mount up d data, my hand will be ready to tire out the chore. (uneasy heart)
Well, blogging is one of the inducers. suppose to be satisfied posting a "report", then only i take a move on logbook handwriting. hah-hah-hah cheeky me.
void this

April 24, 2011

Chowrasta's rout out




It was delightful to have two or three novels, at last..
it's been a while, attempting to improve ma English requires lot of readings and writings, as well as thinking..
by d way, i used to look only for novels, but it end up with buying some eco-plant books..Botany, Biodiversity n Ecology, Plant Pathology, Plant Physiology n Southeast Medicinal Plant..together with him, we opted these practical books to be referred within our study frame..ohh thank God, luckily we are under one roof, operating n dealing with plant.. :))
ohhh forget to mention, Dilema Melayu, we both adored Dr. M's writings, philosophies and ideas..
(happy mood! for saving our future bookshelf spaces)

*************************************************************************

sort of books not in desired arrangement, but u r lucky coz d uncle is really kind enough searching ur book of demand..

ma lil fiance there, *sighing* for his book, "owh why i only knew this place after exam?! ggrrr!"

like a treasure!..been searching d book for so long, only got after paper.. people found jewels from an isolated isle, him, got book at an isolated place somewhere above the wet market.. :))

careful your behind..

a snap before going up..
*************************************************************************
books for today!
novels: RM26

eco-plants: RM165

worth the price, i can say so, coz they are 2nd hand a.k.a used books..we got 3 novels for 26, and 7 varieties of thick, bold, huge books for 165..
smiling face =)

*************************************************************************

random pix taken along d way..





it was a disappointment reaching Bukit Bendera u couldn't enter..i thought they mentioned in newspaper, BB is open by today, Sunday 23rd April 2011.. but?
ahhh never wanna be charged of waiting.. turned back to USM..

April 23, 2011

ADOLF ROBERTO (AHMAD IZZAH) really put me burst in tears..


Dari : Al-Manahil

Suatu petang, di Tahun 1525. Penjara tempat tahanan orang-orang di situ terasa hening mencengkam. Jeneral Adolf Roberto, pemimpin penjara yang terkenal bengis, tengah memeriksa setiap kamar tahanan.

Setiap banduan penjara membongkokkan badannya rendah-rendah ketika ‘algojo penjara’ itu melintasi di hadapan mereka. Kerana kalau tidak, sepatu ‘boot keras’ milik tuan Roberto yang fanatik Kristian itu akan mendarat di wajah mereka. Roberto marah besar ketika dari sebuah kamar tahanan terdengar seseoran mengumandangkan suara-suara yang amat ia benci. “Hai…hentikan suara jelekmu! Hentikan…!” Teriak Roberto sekeras-kerasnya sambil membelalakkan mata. Namun apa yang terjadi? Laki-laki di kamar tahanan tadi tetap saja bersenandung dengan khusyu’nya. Roberto bertambah berang. Algojo penjara itu menghampiri kamar tahanan yang luasnya tak lebih sekadar cukup untuk satu orang.

Dengan marah ia menyemburkan ludahnya ke wajah tua sang tahanan yang keriput hanya tinggal tulang. Tak puas sampai di situ, ia lalu menyucuh wajah dan seluruh badan orang tua renta itu dengan rokoknya yang menyala. Sungguh ajaib… Tak terdengar secuil pun keluh kesakitan. Bibir yang pucat kering milik sang tahanan amat galak untuk meneriakkan kata Rabbi, wa ana ‘abduka… Tahanan lain yang menyaksikan kebiadaban itu serentak bertakbir sambil berkata, “Bersabarlah wahai ustaz…InsyaALlah tempatmu di Syurga.”

Melihat kegigihan orang tua yang dipanggil ustaz oleh sesama tahanan, ‘algojo penjara’ itu bertambah memuncak marahnya. Ia memerintahkan pegawai penjara untuk membuka sel, dan ditariknya tubuh orang tua itu keras-kerasnya sehingga terjerembab di lantai.

“Hai orang tua busuk! Bukankah engkau tahu, aku tidak suka bahasa hinamu itu?! Aku tidak suka apa-apa yang berhubung dengan agamamu! Ketahuilah orang tua dungu, bumi Sepanyol ini kini telah berada dalam kekuasaan bapa kami, Tuhan Jesus. Anda telah membuat aku benci dan geram dengan ‘suara-suara’ yang seharusnya tidak didengari lagi di sini. Sebagai balasannya engkau akan kubunuh. Kecuali, kalau engkau mahu minta maaf dan masuk agama kami.”

Mendengar “khutbah” itu orang tua itu mendongakkan kepala, menatap Roberto dengan tatapan yang tajam dan dingin. Ia lalu berucap,

“Sungguh…aku sangat merindukan kematian, agar aku segera dapat menjumpai kekasihku yang amat kucintai, ALlah. Bila kini aku berada di puncak kebahagiaan karena akan segera menemuiNya, patutkah aku berlutut kepadamu, hai manusia busuk? Jika aku turuti kemahuanmu, tentu aku termasuk manusia yang amat bodoh.”

Sejurus sahaja kata-kata itu terhenti, sepatu lars Roberto sudah mendarat di wajahnya. Laki-laki itu terhuyung. Kemudian jatuh terkapar di lantai penjara dengan wajah berlumuran darah. Ketika itulah dari saku baju penjaranya yang telah lusuh, meluncur sebuah ‘buku kecil’. Adolf Roberto berusaha
memungutnya. Namun tangan sang Ustaz telah terlebih dahulu mengambil dan menggenggamnya erat-erat. “Berikan buku itu, hai laki-laki dungu!” bentak Roberto.

“Haram bagi tanganmu yang kafir dan berlumuran dosa untuk menyentuh barang suci ini!”ucap sang ustaz dengan tatapan menghina pada Roberto. Tak ada jalan lain, akhirnya Roberto mengambil jalan paksa untuk mendapatkan buku itu. Sepatu lars seberat dua kilogram itu ia gunakan untuk menginjak jari-jari tangan sang ustaz yang telah lemah.

Suara gemeretak tulang yang patah terdengar menggetarkan hati. Namun tidak demikian bagi Roberto. Laki-laki bengis itu malah merasa bangga mendengar gemeretak tulang yang terputus. Bahkan ‘algojo penjara’ itu merasa lebih puas lagi ketika melihat tetesan darah mengalir dari jari-jari musuhnya yang telah hancur.

Setelah tangan tua itu tak berdaya, Roberto memungut buku kecil yang membuatnya baran. Perlahan Roberto membuka sampul buku yang telah lusuh. Mendadak algojo itu termenung.

“Ah…seperti aku pernah mengenal buku ini. Tetapi bila? Ya, aku pernah mengenal buku ini.”

Suara hati Roberto bertanya-tanya. Perlahan Roberto membuka lembaran pertama itu. Pemuda berumur tiga puluh tahun itu bertambah terkejut tatkala melihat tulisan-tulisan “aneh” dalam buku itu. Rasanya ia pernah mengenal tulisan seperti itu dahulu. Namun, sekarang tak pernah dilihatnya di bumi Sepanyol.

Akhirnya Roberto duduk di samping sang ustaz yang sedang melepaskan nafas-nafas terakhirnya. Wajah bengis sang algojo kini diliputi tanda tanya yang dalam. Mata Roberto rapat terpejam. Ia berusaha keras mengingat peristiwa yang dialaminya sewaktu masih kanak-kanak.

Perlahan, sketsa masa lalu itu tergambar kembali dalam ingatan Roberto. Pemuda itu teringat ketika suatu petang di masa kanak-kanaknya terjadi kekecohan besar di negeri tempat kelahirannya ini. Petang itu ia melihat peristiwa yang mengerikan di lapangan Inkuisisi (lapangan tempat pembantaian kaum muslimin di Andalusia). Di tempat itu tengah berlangsung pesta darah dan nyawa. Beribu-ribu jiwa tak berdosa gugur di bumi Andalusia.

Di hujung kiri lapangan, beberapa puluh wanita berhijab (jilbab) digantung pada tiang-tiang besi yang terpancang tinggi. Tubuh mereka bergelantungan tertiup angin petang yang kencang, membuat pakaian muslimah yang dikenakan berkibar-kibar di udara. Sementara, di tengah lapangan ratusan pemuda Islam dibakar hidup-hidup pada tiang-tiang salib, hanya karena tidak mahu memasuki agama yang dibawa oleh para rahib.

Seorang kanak- kanak laki-laki comel dan tampan, berumur sekitar tujuh tahun, malam itu masih berdiri tegak di lapangan Inkuisisi yang telah senyap. Korban-korban kebiadaban itu telah syahid semua. Kanak kanak comel itu melimpahkan airmatanya menatap sang ibu yang terkulai lemah di tiang gantungan. Perlahan-lahan kanak – kanak itu mendekati tubuh sang ummi yang tak sudah bernyawa, sambil menggayuti abinya. Sang anak itu berkata dengan suara parau, “Ummi, ummi, mari kita pulang. Hari telah malam. Bukankah ummi telah berjanji malam ini akan mengajariku lagi tentang alif, ba, ta, tsa….? Ummi, cepat pulang ke rumah ummi…”

Budak kecil itu akhirnya menangis keras, ketika sang ummi tak jua menjawab ucapannya. Ia semakin bingung dan takut, tak tahu apa yang harus dibuat . Untuk pulang ke rumah pun ia tak tahu arah. Akhirnya budak itu berteriak memanggil bapaknya, “Abi…Abi…Abi…” Namun ia segera terhenti berteriak memanggil sang bapa ketika teringat petang kelmarin bapanya diseret dari rumah oleh beberapa orang berseragam.

“Hai…siapa kamu?!” jerit segerombolan orang yang tiba-tiba mendekati budak tersebut. “Saya Ahmad Izzah, sedang menunggu Ummi…” jawabnya memohon belas kasih. “Hah…siapa namamu budak, cuba ulangi!” bentak salah seorang dari mereka. “Saya Ahmad Izzah…” dia kembali menjawab dengan agak kasar. Tiba-tiba “Plak! sebuah tamparan mendarat di pipi si kecil. “Hai budak…! Wajahmu cantik tapi namamu hodoh. Aku benci namamu. Sekarang kutukar namamu dengan nama yang lebih baik. Namamu sekarang ‘Adolf Roberto’…Awas! Jangan kau sebut lagi namamu yang buruk itu. Kalau kau sebut lagi nama lamamu itu, nanti akan kubunuh!” ancam laki-laki itu.”

Budak itu mengigil ketakutan, sembari tetap menitiskan air mata. Dia hanya menurut ketika gerombolan itu membawanya keluar lapangan Inkuisisi. Akhirnya budak tampan itu hidup bersama mereka.

Roberto sedar dari renungannya yang panjang. Pemuda itu melompat ke arah sang tahanan. Secepat kilat dirobeknya baju penjara yang melekat pada tubuh sang ustaz. Ia mencari-cari sesuatu di pusat laki-laki itu. Ketika ia menemukan sebuah ‘tanda hitam’ ia berteriak histeria, “Abi…Abi…Abi…” Ia pun menangis keras, tak ubahnya seperti Ahmad Izzah dulu. Fikirannya terus bergelut dengan masa lalunya. Ia masih ingat betul, bahwa buku kecil yang ada di dalam genggamannya adalah Kitab Suci milik bapanya, yang dulu sering dibawa dan dibaca ayahnya ketika hendak menidurkannya. Ia jua ingat betul ayahnya mempunyai ‘tanda hitam’ pada bahagian pusat.

Pemuda bengis itu terus meraung dan memeluk erat tubuh tua nan lemah. Tampak sekali ada penyesalan yang amat dalam atas tingkah-lakunya selama ini. Lidahnya yang sudah berpuluh-puluh tahun lupa akan Islam, saat itu dengan spontan menyebut, “Abi… aku masih ingat alif, ba, ta, tha…” Hanya sebatas kata itu yang masih terakam dalam benaknya.

Sang ustaz segera membuka mata ketika merasakan ada tetesan hangat yang membasahi wajahnya. Dengan tatapan samar dia masih dapat melihat seseorang yang tadi menyeksanya habis-habisan kini sedang memeluknya. “Tunjuki aku pada jalan yang telah engkau tempuhi Abi, tunjukkan aku pada jalan itu…” Terdengar suara Roberto meminta belas.

Sang ustaz tengah mengatur nafas untuk berkata-kata, lalu memejamkan matanya. Air matanya pun turut berlinang. Betapa tidak, jika setelah puluhan tahun, ternyata ia masih sempat berjumpa dengan buah hatinya, di tempat ini. Sungguh tak masuk akal. Ini semata-mata bukti kebesaran Allah.

Sang Abi dengan susah payah masih boleh berucap. “Anakku, pergilah engkau ke Mesir. Di sana banyak saudaramu. Katakan saja bahwa engkau kenal dengan Syaikh Abdullah Fattah Ismail Al-Andalusy. Belajarlah engkau di negeri itu,” Setelah selesai berpesan sang ustaz menghembuskan nafas terakhir dengan berbekal kalimah indah “Asyahadu anla IllaahailALlah, wa asyahadu anna Muhammad Rasullullah…’. Beliau pergi dengan menemui Rabbnya dengan tersenyum, setelah sekian lama berjuang dibumi yang fana ini.

Kini Ahmah Izzah telah menjadi seorang alim di Mesir. Seluruh hidupnya dibaktikan untuk agamanya, ‘Islam, sebagai ganti kekafiran yang di masa muda sempat disandangnya. Banyak pemuda Islam dari berbagai penjuru berguru dengannya…”

Al-Ustadz Ahmad Izzah Al-Andalusy.

Benarlah firman Allah…

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama ALlah, tetaplah atas fitrah ALlah yang telah menciptakan manusia menurut fitrahnya itu. Tidak ada perubahan atas fitrah ALlah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS>30:30)

Syeikh Al-Islam Turki yang terakhir iaitu As-Syeikh Mustafa Al Basri telah menegaskan dalam bukunya …

Sekularisma yang memisahkan ajaran agama dengan kehidupan dunia merupakan jalan paling mudah untuk menjadi murtad.

Work load, and I LOVE YOU



this week, and all remaining bout 2-3 weeks are first degree's exam week..
im getting bz doing ma work, dat is continuing ma 2nd or 3rd retitled research.. current research: all about antioxidant values in selected coastal plants..oh great! master study always change topics..it depends on ur supervisor, surroundings and what's ur SV up to..
naa its okay though..im thinking of just to finish this before any abrupt ideas appear from nowhere, in sudden..

the thing now is, just wanna express my sincere, intimate n eternal love to my love one, my fiance..
thanks for being all around me, beside me, holding my faith..even im not that rational by sometimes..childish.. well i only show those to you.. hehehe..
I LOVE YOU!





March 28, 2011

Mursi Ethnic in Ethophia




Yes!
My post today is more likely on information sharing..
Biasala, my fav 'portable' magazine, Infinity has been ma best source of knowledge since 2010..
This super side-sticky-sheets publish only once a month, n now i'm reading d 23rd edition.. (actually i missed the 1st till 20th sumthing) i started read from d 20th so-so edition.. as often as i read, the topics get fascinating..banyak memaparkan info2 more to facts and research, sciences, spaces, diseases, national geographic (a small community, 'tribe')..

In short, dis mag is compact, filled with valuable info dat u wouldn't absolutely regret, n exclusive (fast-read mechanism), not so over-length, just important point included as long as d messages could be delivered successfully..

One of the topic i want to share is, about Mursi ethnic in Ethophia..they all rather choose to suffer as long as they remain 'beauty'..beauty in term of their perspective is, lip-piercing tradition..


owh maybe u've had heard dis tribe before..well me too, but the thing is..ouchhh! sakit kot..
d article is as below, just re-type again..oh yes, i would certainly type it no matter how long the article is..i just like dis info.. :)

The willingness of lip-piercing..
This practice will usually be performed by the mother who has an over 15-year-old daughter. The ceremony is performed by forming lower lip into round shape, bout 1-2 cm in diameter. A piece of wood will be inserted into a pierced lip. This is the first stage, to heal the wound. After 3 weeks, 4 cm in diameter round plate is inserted to form a lip a round-look. Horror, but for them, this is the way revealing beauty. If they refuse to perform this ceremony, there’ll be no man approach.



Actually, this ceremony is not intended only for the sake of pretty, they believe that a woman with such lip would have a big reward during her wedding day. For them, the bigger the lip can be formed, the special gifts they would get. Commonly, the gifts from her future husband would be sheep, horse, cattle and so forth.

However, this belief is denied by most antropologists. These groups argue that this tradition is not directly related to the reward amount. Instead, they put forward the theory that the practice is to show that Mursi girls are matured enough and ready to get married.

This Murzu or Mursi ethnic are nomadic people who lived in the Debub Omo Zone near to the border of Sudan surrounded by the Omo river. A total of 7500 residents there are still strongly hold animism belief. One of them may be seen until now with their tradition, plate-piercing lip..

Owh maybe this is one of d heroes to be married.. ; P ahaks

Yes! done..i love doing dis!

March 27, 2011

Saronok..


ehe..
hari ni memang sgt productive coz byk habiskan mase bace blog orang..
yes! thats my most damn fav thing to do when tasks get soooo abundant..!
haih!

well, i was not only simply read n go..i learnt so much too, that is, how to add pretty stuff n make ur blog a nice look and fresh it a lil' bit up..proof? just see my newly page, hihihi ada ok ka?
but ma page only touched a bit on background..n it is very simple as u can search on the template designer under d design tab, and click it away to apply on ur page..
ni la page nyer..ok la..im a newbie ok, blaja sikit2 pn tape..
hehe..

d thing dat i wanna stress here is, i've spent all day reading thru plenty of bloggers' blog..sgt cantek..i mean, dari sudut pengolahan post, template, color mixing dlm blog, gadget arrangements, n yg menarik skali, they can even edit d page attached with their own pix n teddies yg comey2..ouhhh! envy is controlling me rite now..haih!

n i tried to create d page as theirs by following d instructions given (ohh thanks btw, even y'all pnyer blog hebat, y'all xlokek utk share d secrets)
i was then followed with pleasingness..
but failed! why? i don no..maybe because of the different template designer? i really don no..i was getting tired trying over n over..

tapela..esok masih ada..nk tidoq dulu..
daaa~

ohh.. forget to mention, i am d person dat easily gets sleepy cause of tension..
its like drug addicted..but im d opposite way, "sleep 'induced-by-stress' addicted"?

daaa!
till d next post..

March 5, 2011

Hair Rebonding?


oWh..

its been a Loooonggg timmeee since my post grad registration..
cian blog aku..abandon site..sori2 mummy bz la lately..byk mende kne pikiak..
research ongoing, chasing the duedate of scholar applications, sampling and fieldworks, tryin' to keep up the reputation, and all that stuffs!

oWh..

never had a best time to think of myself..hurm..but lately, i've thought bout doing my hair..its rebonding..ouch!
but, im in dlemma i should? or shouldn't?
my hair is kind of....ok.. not curly, not really straight at all..
i just wanna try, transform ma image..experimenting my hair..

tapi, bile pikiak balik, im afraid if my hair got broken, coz, memang sah2 la chemical subtances die pakai tu membahayakan rambut, even ur skin n scalp would 90% get that risk.

oWh..

maybe i shouldn't do it, *for this time being*..coz i have read the fact bout rebonding just now..
here's the article..just copy paste..express way punyer method..no worries, the source of this article is cited..


It gives you silky, super straight hair, the way the girls in hair commercials look, and the way Jennifer Lopez and Faye Wong look, but it can also leave you bald. In one of the case study, a 14-year-old girl had big clumps of hair falling off in the shower a year after the process. Her hair started breaking 2 months after being rebounded. Then another case when a woman is suing her hairdresser for bald patches on her head after a similar treatment. Her scalp started stinging during the process itself and hair fell off in clumps shortly after.


Hair rebonding is a process where the chemical bonds in your hair are broken, rearranged and bonded back again permanently using very strong chemicals. It is one of the most damaging things you can do to your hair. During rebonding, perming lotion is added to soften the hair and break down its bonds. After this is washed off, hair is placed between 2 metal plates of an electric styling device, which uses heat to pull the hair rod-straight. A neutralizer is then applied to reset the bonds and stabilize the hair.


Hair is irreversibly altered after the perming process. Chemically-treated hair shafts are weaker and fracture more easily. This can lead to hair loss. Hair become fragile and has to be handled with extreme care after treatment. A natural reflex, like tucking your hair behind your ears or tying your hair in the first month after treatment, can be disaster. The process can also cause damage and burns to the skin and scalp. For example hair can be damaged if the various chemicals are left on the hair for too long, or if ironing is done with an iron at higher than 180Âșc.


Conventional methods of straightening hair use hair-straightening lotions, which result in dry, brittle, and split-ends prone hair. Rebonding gives you softer hair but higher risks because it uses more toxic chemicals. Maintaining the rebonded look means continual touch-ups, at least, every 6 months. This puts you at further risk of hair loss, eventually, and prematurely, leaving your full head of hair nothing but a memory.
source: beyondjane.com


well when i think back, wavy hair is much prettier.. right??
i should be thankful!

Blogroll

Daisypath - Personal pictureDaisypath Anniversary tickers

Path of Our Life...

Yeahu..

Daisypath Happy Birthday tickers